Mengacu Koalisi, Menuai Oposisi | Tulisan Denny Indrayana @dennyindrayana

Tidak ada resep baku tentang cara memasak makanan enak.Apalagi masakan menu politik-ketatanegaraan. Juru masak yang berpikir bahwa pemerintahan hanya ada dua, presidensial dan parlementer, adalah juru masak yang kuno.

Sistem pemerintahan sudah berkembang, amat pesat. Telah ada adonan perpaduan antara presidensial dan parlementer, yaitu semipresidensial ataupun semiparlementer. Akibatnya, koki masak yang berpikir koalisi dan oposisi hanya ada dalam sistem parlementer harus belajar memasak lagi. Saat-saat ini, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) kembali harus menunjukkan kepiawaiannya dalam memasak koalisi presidensial. UUD 1945, utamanya setelah amandemen, lebih mengarah ke sistem presidensial.

Namun, dengan karakteristik parlementer yang tidak sedikit.Fakta sejarah kekinian menunjukkan ada sembilan partai politik kita di DPR tanpa ada yang mampu menguasai suara mayoritas. Maka, siapa pun presidennya harus melakukan racikan bumbu koalisi yang tepat agar dapat memimpin pemerintahan secara efektif.

Koalisi Minus Soliditas

Presiden pascareformasi akan menghadapi trisula tantangan: pertama, kewenangan konstitusional yang semakin terbatas dan parlemen yang semakin kuat; kedua, dukungan partai politik yang sulit mencapai mayoritas; dan ketiga, kontrol masyarakat madani yang semakin tinggi. Tulisan ini fokus mengulas tantangan kedua. Dukungan partai politik yang mayoritas,di pemerintahan dan parlemen, adalah keniscayaan bagi sistem presidensial yang efektif.

Presiden di era Orde Baru tidak mempunyai masalah political support karena Golkar selalu menjadi partai pendukung pemerintah yang mempunyai kursi mayoritas mutlak di parlemen. Presiden Soeharto tidak perlu dipusingkan dengan keniscayaan meramu adonan koalisi pemerintahannya. Jalannya pemerintahan dan kontrol parlemen berada di bawah kendali penuh Presiden––apalagi UUD 1945 kala itu juga executive heavy constitution.

Konsekuensinya, kontrol kepada Presiden menjadi sangat lemah. Pemerintahan pasca-Reformasi dengan multipartai yang tak sederhana tidak mempunyai fasilitas dukungan DPR yang berlimpah sebagaimana dimiliki presiden era Orde Baru. Pada era demokratis sekarang, di satu sisi kewenangan presiden sangat dibatasi,di sisi lain kewenangan kontrol DPR menjadi jauh lebih kuat.

Di tambah lagi, presiden tidak didukung oleh satu partai yang menguasai mayoritas kursi DPR––jangankan mayoritas mutlak sebagaimana era Orde Baru,mayoritas sederhana saja tidak terjadi. Harap dicatat,pada era Presiden SBY 2004–2009, Partai Demokrat yang menjadi pendukung utama Presiden hanya memiliki 55 kursi dari total 550 atau hanya 10% kekuatan DPR. Pada periode kedua 2009–2014, meski ada perbaikan, Demokrat tetap hanya menguasai 148 dari total 560 atau 26,43%––masih jauh untuk mencapai penguasaan mayoritas kursi di DPR.

Padahal, meskipun didukung pemilih lebih dari 60% pada Pemilu 2004 dan 2009,Presiden SBY tetap membutuhkan dukungan politik yang mayoritas. Karena, agar efektif jalannya pemerintahan, Presiden lebih membutuhkan political support ketimbang electoral support. Karena itu, untuk menjawab tantangan kedua tentang minimnya dukungan politik, tidak ada jalan lain, Presiden harus meramu masakan koalisi yang tepat. Maka dilakukanlah upaya-upaya seperti penandatanganan perjanjian koalisi dan pembentukan Sekretariat Gabungan koalisi.

Namun,dalam perjalanannya komitmen koalisi ternyata sangat labil dan jauh dari solid. Dalam buku The Coalitional Presidency (1989) dijelaskan bahwa ada tiga jenis koalisi: koalisi konsensus,koalisi konglomerat, dan koalisi eksklusif. Koalisi konsensus adalah yang paling solid karena bersatunya partai-partai disebabkan kesamaan ideologi, persamaan visi-misi. Koalisi konglomerat kualitas soliditasnya hanya moderat karena bersatunya partai-partai hanya sematamata didasarkan pada kesamaan calon presiden yang mereka jagokan.

Adapun koalisi eksklusif soliditasnya paling lemah karena ikatan koalisi hanya berdasarkan kesamaan isu yang mereka usung. Becermin dari klasifikasi koalisi yang ada di buku “Presidensial Koalisi” di atas, menjadi tidak aneh kalau koalisi pemerintahan sekarang menjadi sangat rapuh.Karena,koalisi terkini jelas bukan jenis consensus coalition lantaran ideologi dan visi-misi partai di dalam koalisi cenderung beragam. Bukan pula conglomerate coalition karena di dalam koalisi ada Partai Golkar yang mempunyai capres berbeda dan bersaing dalam Pilpres 2009.

Jadi, koalisi sekarang lebih masuk kategori exclusive coalition yang sangat tidak solid karena tergantung pada kesamaan isu yang diusung. Absennya soliditas tersebut terbukti dengan berbedanya posisi anggota koalisi dalam voting hak angket Century dan hak angket mafia pajak. Upaya keras yang sedang diikhtiarkan Presiden SBY kali ini adalah mencoba memasukkan bumbu soliditas yang sering absen dalam masakan koalisi.Tapi pilihan bumbu masakan yang dimiliki Presiden tetap terbatas.

Maka, bumbu pamungkas reshuffle-lah yang digunakan untuk menyolidkan barisan koalisi.Karena, meskipun kewenangan Presiden dalam appointment and removal lebih terbatas,pengangkatan dan pemberhentian menteri tetap merupakan hak prerogatif Presiden. Maka bumbu kartu truf ”kocok ulang menteri” itulah yang agaknya akan dikeluarkan Presiden SBY dalam waktu dekat.

Karena pada hakikatnya koalisi yang terbangun sekarang masih jauh dari koalisi ideologis-visi-misi, tetapi masih hanya pada level koalisikursi. Saya meyakini, power sharing kursi menteri masih merupakan tawaran yang bergengsi bagi para partai koalisi. Dalam kenyataannya, kehilangan posisi menteri atau keluar dari koalisi sebenarnya bukan merupakan opsi sehingga tidak ada parpol yang berinisiatif untuk itu. Parpolparpol lebih memilih pasif, harap-harap cemas menunggu keputusan Presiden SBY sebagai pemimpin koalisi.

Koalisi Antikorupsi

Ke depan, semua anggota koalisi harus konsekuen dengan perjanjian koalisi yang diteken, yaitu untuk menyukseskan Presiden SBY-Boediono dan bekerja sama baik di eksekutif maupun legislatif. Perbedaanpendapatbisadiperdebatkan hingga tuntas di lingkup internal Setgab. Namun, jika keputusan telah dijatuhkan, semua anggota koalisi harus konsekuen dan melaksanakan keputusan koalisi.Jika ada anggota koalisi yang tetap ngotot berbeda pendapat, karena perbedaannya sangat prinsip, maka anggota koalisi demikian seharusnya keluar dari koalisi dan menjadi oposisi.

Salah satu perbedaan prinsip yang tidak bisa ditoleransi adalah visi antikorupsi, misi antimafia. Di antara kesulitan memasak adonan koalisi,maka fase memasukkan bumbu antikorupsi ini adalah yang paling sulit. Becermin dari kasuskasus yang ditangani KPK, rata-rata partai besar di DPR mempunyai kader yang telah atau sedang menjalani proses hukum akibat melakukan korupsi.Hal itu sejalan dengan berbagai jajak pendapat yang menempatkan parpol dan parlemen sebagai wilayah terkorup yang tentunya harus terus dibersihkan.

Dalam kondisi demikian, membangun koalisi yang tidak hanya efektif, tetapi juga antikorupsi menjadi sangat sulit, amat rumit. Namun, koalisi efektif antikorupsi bukan hanya suatu kebutuhan, tetapi juga adalah suatu kewajiban. Karenanya, dorongan ke arah koalisi antikorupsi itu harus terus dilakukan. Saat ini tentu masih jauh dari kenyataan, tetapi kita harus terus mengupayakannya, yaitu dengan terus menyederhanakan sistem kepartaian dan terus melakukan pembersihan tubuh partai dari anasir korupsi.

Harus diikhtiarkan Indonesia ke depan adalah negara demokratis dengan koalisi kepartaian antikorupsi yang mendukung sistem presidensial yang lebih efektif. Dengan demikian koalisi tidak selalu pecah setiap menjalankan agenda antikorupsi dan antimafia karena yang tersenggol dampaknya adalah teman koalisi sendiri.Yang pasti, hukum alam mengajarkan,siapa yang menabur kacau koalisi, maka seharusnya partainya menuai posisi oposisi.Sebagaimana pepatah, siapa menabur angin, dia menuai badai. Doa and do the best.Keep on fighting for the better Indonesia

Posted from WordPress for BlackBerry.

Iklan

Tag:, , , , , ,

About ghemaverik

Loves the Journey

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: