Kasih judul apa yaaa ??

Siapapun yang punya blog pasti pernah ngerasaian masa2 gak pernah nulislagi  atau posting apapun.. Tengok tuh,, gue mw ngasih judul apa aja bingung kan.. Nampaknya alamiah sekali masa2 seperti itu.. Yaaa kayak gue yang sedang (lebih tepat keseringan) mengalami masa2 seperti itu.. Banyak aja alasannya,, entah males buka laptop (padahal udh ada aplikasi wordpress di bb),, gak punya ide atau gak punya waktu.. Malah social media macam twitter atau facebook jadi pelampiasan isi pikiran.. Tapi tidak ada yang tidak bisa di rubah,, namun perubahan memerlukan waktu dan ini (kadang) sulit diprediksi karena ditentukan oleh niat dan izin Tuhan.. Keren kan 🙂

Subsidi BBM Versus Rakyat Miskin

Subsidi BBM Versus Rakyat Miskin

oleh:

Sunarsip*

Saya melihat, banyak yang kurang tepat dalam mengaitkan kebijakan subsidi bahan bakar minyak (BBM) dengan pemihakan terhadap rakyat miskin. Klaim bahwa mempertahankan kebijakan subsidi BBM yang berlaku saat ini sebagai bukti pemihakan terhadap rakyat miskin, tampaknya perlu dikaji lagi. Karena faktanya, jika ditelaah lebih jauh komposisi pengguna BBM bersubsidi dan juga komposisi alokasi APBN, mempertahankan pola subsidi BBM ini justru bisa sebaliknya: tidak memihak rakyat miskin. Sebagai penjelasan, mari kita lihat data dan faktanya.

Data Kementerian ESDM 2010 memperlihatkan bahwa 60 persen BBM bersubsidi berasal dari BBM jenis Premium, selebihnya 34 persen solar dan 6 persen minyak tanah. Bila dilihat dari penggunanya, 89% pengguna BBM bersubsidi adalah transportasi darat. Sementara itu, 59 persen pengguna BBM bersubsidi berada di Jawa Bali, dimana 30 persen-nya berada di Jawa dan 18 persen-nya berada di Jabodetabek. Yang paling mengejutkan, penikmat BBM bersubsidi ternyata 53 persen merupakan pemilik mobil pribadi, motor 40%, mobil barang hanya 4 persen, dan kendaraan umum hanya 3 persen.

Berdasarkan data ini terlihat bahwa penikmat subsidi BBM, sebagian besar merupakan individu pemilik kendaraan bermotor (terutama mobil) di perkotaan yang sesungguhnya masuk kategori masyarakat menengah atas. Dengan kata lain, klaim bahwa mempertahankan kebijakan subsidi BBM yang berlaku saat ini sebagai upaya memproteksi rakyat miskin, sejatinya sudah tidak valid.

Pada APBN 2012, subsidi BBM mencapai Rp123,6 trilyun. Itupun dengan asumsi harga minyak mentah masih US$90/barel. Berdasarkan perhitungan Kementerian Keuangan, bila tidak ada kebijakan apa-apa, di tengah harga minyak mentah yang kini di atas US$100 per barel, subsidi BBM bisa bertambah Rp67 triliun. Sebagai perbandingan, pada APBN 2012, anggaran kemiskinan Rp99, 2 trilyun, anggaran kesehatan Rp48 trilyun. Anggaran pertanian (baik pusat maupun transfer ke daerah, termasuk subsidi pangan) hanya Rp53,9 trilyun, dan anggaran infrastruktur Rp161,5 trilyun.

Terlihat bahwa anggaran subsidi BBM jauh lebih besar dibandingkan anggaran yang sesungguhnya terkait langsung dengan kepentingan rakyat, khususnya rakyat miskin. Pertanyaannya, apakah model subsidi seperti ini yang hendak kita pertahankan? Seharusnya tidak. Saya berpendapat, pola kebijakan subsidi dalam rangka keberpihakan kepada rakyat miskin, semestinya diubah. Perubahan ini, tidak berarti menghilangkan subsidi, tetapi dengan mempertajam penargetan subsidi agar tepat sasaran, sekaligus untuk meningkatkan taraf hidup rakyat miskin secara nyata dan berkelanjutan.

Salah satu perubahan kebijakan pemihakan kita kepada rakyat miskin adalah dengan membalik piramida komposisi belanja APBN. Caranya adalah memperkecil subsidi BBM, tetapi memperbesar belanja kemiskinan, pertanian, kesehatan, dan infrastruktur. Dengan membalik piramida komposisi belanja APBN, subsidi BBM yang tadinya memiliki porsi paling tinggi, menjadi paling kecil. Konsekuensinya, terdapat pengalihan anggaran subsidi BBM secara signifikan ke pos anggaran kemiskinan, pertanian, kesehatan, dan infrastruktur (dasar), sehingga alokasi pos-pos APBN ini menjadi jauh lebih besar.

Tentunya, pengalihan alokasi anggaran ini harus didesain dengan baik, tidak sekedar mengalihkan kelebihan subsidi BBM ke pos-pos belanja lainnya. Salah satu caranya adalah pemerintah perlu meredefinisi kembali konsep kemiskinan di Indonesia. Untuk menjelaskan pentingnya redifinisi konsep kemiskinan ini, berikut saya berikan beberapa ilustrasi. Sebagai kompensasi atas kenaikan harga BBM bersubsidi, pemerintah menyiapkan Bantuan Langsung Sementara Masyarakat (BLSM), istilah lain dari Bantuan Langsung Tunai (BLT) yang diterapkan pada 2005 dan 2008 lalu. Berdasarkan pemberitaan, BLSM akan diberikan kepada sekitar 18,5 juta keluarga miskin. Itu berarti, bila setiap keluarga terdiri dari 4 anggota, berarti BLSM akan menyasar sekitar 70-75 juta penduduk miskin.

Berdasarkan data BPS, penduduk yang berada di bawah garis kemiskinan sekitar 30 juta jiwa. Sedangkan, penduduk dengan pengeluaran sebesar 1,5 kali dari penduduk di bawah garis kemiskinan sekitar 62 juta jiwa. Artinya, penduduk dengan pengeluaran sebesar 1,5 garis kemiskinan ke bawah, jumlahnya sekitar 92 juta. Sementara itu, kompensasi BLSM yang diberikan hanya untuk sekitar 75 juta jiwa. Dari perbandingan ini, sejatinya dana BLSM tidak mencukupi.

Selain dana kompensasi BSLM tidak cukup, sesungguhnya standar kemiskinan yang diterapkan di Indonesia masih rendah. Untuk menentukan penduduk miskin, kita masih menggunakan konsep kemampuan memenuhi kebutuhan dasar (basic needs approach) yang digunakan oleh negara-negara yang kondisi ekonominya relatif tertinggal, seperti Armenia, Senegal, Pakistan, Bangladesh, Vietnam, Sierra Leone, dan Gambia. Atas dasar inilah, perlu ada perubahan mendasar dalam mendefinisikan kemiskinan. Sebagai negara dengan kekuatan ekonomi besar, seyogyanya kriteria pengukuran kemiskinan mengacu kepada best practices, seperti acuan yang dikeluarkan Bank Dunia dengan menggunakan standar yang lebih tinggi. Melalui pengukuran kemiskinan dengan standar yang lebih baik, kita bisa memahami persoalan kemiskinan kita secara lebih objektif dan manusiawi. Selain itu, juga terdapat alasan yang kuat untuk memperbesar anggaran kemiskinan, kesehatan, pertanian, dan infrastruktur (dasar, termasuk transportasi umum). Sehingga, kita pun bisa memetakan kebutuhan riil penduduk miskin kita agar taraf hidupnya dapat ditingkatkan setara dengan penduduk di negara lain.

Kesimpulannya, kebijakan penurunan subsidi BBM, melalui kenaikan harga BBM adalah hal yang memang perlu dilakukan. Kita tidak bisa membiarkan APBN justru pro masyarakat yang seharusnya tidak disubsidi. Satu hal yang perlu dicatat, jika kita membiarkan subsidi BBM membesar, seiring tingginya harga minyak mentah, itu akan berdampak negatif pada APBN. Berdasarkan keterangan pemerintah, jika kebijakan kenaikan harga BBM tidak dieksekusi, defisit APBN dapat bertambah Rp175,9 triliun dari perkiraan awal di APBN 2012 Rp124,02 triliun (menjadi 3,6 persen dari PDB). Pertanyaannya, darimana defisit sebesar itu ditutupi? Jawabannya: utang! Siapa yang menanggung tambahan utang itu? Jawabannya: rakyat termasuk rakyat miskin.

Saat ini, Indonesia berada dalam posisi sebagai net importir BBM. Karenanya, mempertahankan subsidi BBM, itu sama saja kita memberikan subsidi bagi kilang minyak di luar negeri, yang sudah pasti dampak multiplier-nya terhadap ekonomi kita akan negatif. Hal yang berbeda bila subsidi dialihkan ke anggaran kemiskinan, infrastruktur, pendidikan, kesehatan yang pasti akan memberikan dampak multiplier positif. Dan saya kira, langkah penurunan subsidi BBM yang diimbangi dengan pengalihan subsidi secara signifikan ke anggaran kemiskinan, pertanian, kesehatan, dan infrastruktur, akan dapat menjadi jawaban kelompok masyarakat yang saat ini menolak kebijakan kenaikan harga BBM bersubsidi.***

*)Sunarsip adalah Ekonom The Indonesia Economic Intelligence (IEI). Analisis ini telah dimuat harian REPUBLIKA, Senin, 19 Maret 2012. Sumber tulisan bisa dilihat disini.

Menemukan Kembali Liberalisme – Fins

E-Book bisa di download disini.. Selamat membaca,,

Encyclopedia American Political History Princeton

E-Book bisa di download disini.. Selamat membaca..

WE FIGHT FOR OIL – A History Of Us Petroleum Wars

E-Book bisa di download disini.. Selamat membaca..